Poto-Poto

Sabtu, 18 Agustus 2012

Aku bangga akan negeri yang sombong.

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
sangat menghargai petaninya
sampai-sampai beras petaninya tidak dibelinya

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
sangat menghargai pendidikannya
sampai-sampai perlu banyak uang untuk mengikutinya

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
begitu menghargai para wartawannya
sampai-sampai mereka diadu dengan para preman

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
begitu menghargai sejarahnya
sampai-sampai para generasi mudanya tak tahu jelas

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
begitu menghargai alamnya
sampai-sampai dibagikan ke negeri lainnya

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
begitu menghargai pejabatnya
sampai-sampai mereka diberi hak untuk melakukan korupsi

ck ck ck

Hebatnya negeriku,
begitu baik kepada penganggurnya
sampai-sampai mereka dipekerjakan diluar negeri

dan..........
begitu hebatnya negeriku,
karena dengan kehebatannya kita dibuatnya diam

ck ck ck

Goresan Seorang Ibu (Semoga)


Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya…sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan. Keesokan harinya di sekolah…

“Ibumu hanya punya satu mata?!?!”….eeeeee, jerit seorang temanku.
Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu,
“Bu…. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!”

Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini… Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.
Malam itu..

Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. I memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika.. Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku…Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku.
Kataku,

“Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!”
Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya,
“Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku!!”
“KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!”

Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja…ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega… Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja.

Di sana, kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya…. Sepucuk surat untukku.
“Anakku..
Kurasa hidupku sudah cukup panjang..
Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi..
Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah.
Demi kau..

Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata… Maka aku berikan mataku untukmu…. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku…” Anakku… Oh, anakku…”

Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidup Anda! Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu AndaGuys...make a call or at least send message to your beloved mommy right now and tell her that u love her so damn much.

Tegur Sapa Pada Si Senja

Beautiful afternoon
that nice to spend it with "yours"
Don't need to try hard
to make it comfortable
Just sit between us
and breathing. . .

Feels the air through your soul.

Kamu a/ Aku ?

Awal pertemuan selalu saja menjadi suatu nostalgi paling "asoooy" dalam setiap bingkai cerita yang pernah dialami.
Dimana setiap dari kesan yang diterima membuat imajinasi membentuk karakternya secara alami,...
,Setiap tegur sapa,...
,setiap senyuman,...

,setiap nada,...
,setiap emosi.!

...
membuat kesan nyata walaupun kita tahu,bahwa belum tentu ekspresi dari semua yang diterima itu "natural" ???

ada rasa untuk menyapa terlebih dahulu,namun egoisme kedirian berusaha menutupi.
kadang tergumam dalam hati "Biar dia saja yang menyapa",...
Banyak pertanyaan yang berkecamuk...
."apakah aku akan salah bicara?
 ,seharusnya saya tidak begini...
 ,kenapa harus hari ini?"
...
maaf kamu belum siap!

Semuanya hanya untuk membuat kesan pertama terlihat baik.."ha...ha...ha dasar manusia".

Dan saya tahu " you'll fell excited for the first time",dan tidak untuk kedua kalinya.Perasaan menggebu-gebu cuma ada pada saat pertama.

AKIBATNYA...
Pertemuan kedua dan seterusnya akan terasa biasa saja,dimana prasangka akan kekecewaan mulai menjadi prioritas emosi.

Namun,sesungguhnya setiap pertemuan itu punya kesannya sendiri.Bisa saja,pada pertemuan ke 120-an "ha ha ha",sensasi kegembiraan atau keistimewaan akan terasa..

Kamu terlalu cepat membentuk Aku apa dan segala macam.Kaupun membatasi diri untuk mendapatkan yang kau ingini,bahkan tanpa perlu mengotori tangan sendiri.
Sampai kekecewaan yang kamu dapat buktikan bahwa hanya Aku yang salah.
Seharusnya Kamu memberanikan diri untuk terbuka,tidak perlu takut akan "kecewa".
Sebab itu hanya akan ada jika apa yang kau ingini tidak kau raih.
Bersikaplah yang mewajarkan semua ekspresi manusia.Maka tak ada "kecewa" dalam lembaran nafasmu.

Apakah itu "AKU" a/ "KAMU" ?

Rabu, 10 Agustus 2011

Saya Ternyata Manusia

"Tak ada masa,tak ada nama,tak ada pemikiran..."

itu yang saya mau...
biarkan kita jadi manusia tanpa mengikuti,atau mungkin tanpa memposisikan diri pada sesuatu yang terlihat mirip dengan keadaan yang sebenarnya kau buat untuk mengikuti...


PADAHAL,.lebih nikmat kalau kita bersikap dan bertingkah seperti manusia biasa dari sudut pandang manusia luar biasa.

"
Saya manusia biasa,.kalian manusia luar biasa"

Senin, 08 Agustus 2011

Kertas Hidup Penuh Debu

"Adakah kalian membantuku menghentakkan kaki di tanah yang buram ini?ataukah apakah aku ada ketika kalian menghempaskan tubuh di kapas yang berkilau?"


Kembali mengambang celoteh remaja-remaja nakal yang mengikuti  bayanganku selama ini,untunglah aku menyempatkan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah ini menggangguku atau ini yang memberikan saya semangat untuk jalan terus?...

baru sekejap aku memalingkan pandanganku,mataku membeku dalam serpihan kebahagiaan yang kulupakan...
mereka dekat,tapi ingatan tentang itu jauh ditelan aktifitas pribadi...



hanya aku kah yang sadar?...akuilah,hanya aku yang sadar sobat.

penggalan kata yang membuat kita satu tapi memisahkan diri masih terngiang di sela-sela telingaku yang sudah terlalu tuli untuk mendengar panggilan yang terlampau jauh tertinggal di belakangku...

"
Pandanglah ke depan sobat,jangan hiraukan mereka yang menggonggong sambil menjilati kemaluannya sendiri.Karena hanya kita yang tahu arti persahabatan sejati".



  
E.111

Melangkah Tanpa Ragu

"Bisakah keadaan memberikan saya ketenangan masa dalam waktu?..."

Tidak selalu ada jalan yang berujung,ketika kita mengira bahwa depan mata adalah ujung jalan,
...ternyata belum...
ingatlah sesekali akan lubang-lubang jalanan yang kau lewati,karena setiap lubang yang kau lewati tak ayal kerap kali membuat perjalanan menjadi mulus...

Luangkanlah waktu sejenak untuk menutupinya,atau sempatkan dirimu untuk memperbaiki lubang itu,sehingga menjadi sama rata dengan jalan yang telah kau lewati...



cerita akhir yang sederhana namun nikmat akan kau rasa,andaikata semua lubang itu tidak dinamakan lubang lagi...

Sederhana memang,kita berjalan di jalan...tapi perjalananmu yang akan menjadi cerita nikmat bagi orang yang tak punya peta dalam hidupnya...

E.111.